Kisah Teladan : Perempuan Tua itu “Hanya” Pembersih Masjid

Kisah Teladan : Perempuan Tua itu “Hanya” Pembersih Masjid

Kisah teladan ini, tentang Perempuan Tua itu "hanya" Pembersih Masjid ; berulang kali membuat saya semakin terpana tentang ajaran dan teladan dari sosok agung nan mulia, Nabi saw. Kisah ini pula menjadi pukulan keras bagi kita umumnya yang sering melupakan bahkan meremehkan orang-orang disekitar kita. Saya tulis kisah ini kembali dari  kumpulan kisah kisah teladan di dalam Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek Dari Untanya. Semoga menginspirasi kita.

“Kita seperti hidup di banyak dunia, dan dengan mudah kita bisa melupakan perjalanan yang telah kita lalui”

Suatu siang, di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tampak kehilangan sesuatu. Sorot mata beliau melihat ke sudut-sudut masjid. Beliau mencari sosok yang sering beliau ihat ada di Masjid Nabawi. Rasulullah saw lantas bertanya kepada para shahabat  nya, perihal perempuan tua yang biasa membersihkan masjid. 

Para sahabat tampak heran dengan pertanyaan Rasulullah saw. Mereka tidak mengira sosok nenek tua itu mendapat perhatian besar dari Rasulullah saw. Para sahabat lalu menyampaikan bahwa perempuan itu telah meninggal dunia.

Rasul saw, sang teladan, gusar dan bertanya heran kepada para sahabat, “kenapa kalian tidak mengabariku?” Para sahabat menjelaskan, “ Dia meninggal di malam hari da kami tidak ingin mengganggu engkau”. Seperti tersentak Rasulullah saw mendengar berita duka tersebut. Jiwanya yang halus dan penyayang begitu tersentuh saat menerima bahwa sosok perempuan tua yang biasa dijumpainya, kini telah menghadap Allah SWT, tanpa pengetahuannya. Rasul saw segera meminta kepada sahabatnya, “ Tunjukkan kepadaku kuburannya?”.

Siang itu, para sahabat bersama Rasulullah saw pergi ke sebuah makam tempat perempuan tua itu disemayamkan, baru tadi malam. Rasulullah saw lalu menshalatinya (diatas kuburan perempuan tua yang sudah meninggal tersebut) dan berdoa untuknya. (Shahih Bukhari Muslim). Tanah dan pepasir makam perempuan itu menjadi saksi betapa kepedulian Rasulullah terhadapap sebuah jasa yang dianggap kecil oleh orang lain. Perhatian besar oleh seorang utusan Allah kepada jasa yang dianggap sepele oleh orang lain. 

Bagi sebagaian orang, mungkin, jasa yang dilakukan nenek ua itu, tidak masuk dalam kategori yang patut diperhatikan. “Hanya” menyapu masjid. Pekerjaan yang seperti itu, memang nyaris tak mendapat perhatian apapun dari lingkungan sekitanya. Para sahabat Rasulullah saw pun bukan tidak tahu dan bukan tidak menghargai jasa nenek tua yang berkulit hitam itu, namun mereka tidak merasa peranan membersihkan masjid yang dilakukan perempuan tua itu ternyata me nempati posisi istimewa dalam pandangan Rasulullah saw.

Seringkali manusia menghargai jasa orang lain dikaitkan dengan kebutuhannya yang sifatnya sangat sementara. 

Ketika dalam kondisi memerlukan, 

Seseorang cenderung merasakan peran-peran orang lain yang bisa mendukung keperluannya. Tapi bila waktu bergulir dan kebutuhan itu sudah terlampaui, peran dan jasa itupun hilang bak debu diterpa angin. Tak ada bekasnya. Seorang anak yang sudah berhasil, memandang orang tuanya sebagai beban yang merepotkan dirinya, karena sudah tua dan tidak berguna lalu dititipkan di panti jompo. Seorang murid yang sudah sukses, menilai guru-gurunya sebagai batu loncatan belaka yang nyaris terlupakan jasa-jasanya. Ia sudah melampaui fase kebutuhannya terhadap sang guru, lalu menganggap guru keberadaan oara guru itu seperti tidak ada. Ada pula orang yang menginggalkan rekan sekerja, sahabat atau orang yang dikasihi karena sudah tidak berkedudukan tinggi, sudah tidak memiliki jabatan dan sudah tidak berguna bagi dirinya.

Dunia yang kecil ini ternyata banyak membuat kita lalai. Kita seperti hidup di banyak dunia dan dengan mudah kita bisa melupakan perjalanan yang telah kita lalui. Padahal kita tetap hidup di dunia yang sama, dalam fase kehidupan yang sama pula. Hanya perbedaan suasana dan keadaan yang memisahkan kita dari agam bantuan dan peran-peran orang lain, yang pernah sangat berjasa dalam hidup kita.  Tapi begitulah, dunia yang kecil ini ternyata telah banyak membuat kita lalai.

Realitas lainnya, orang begitu mudah mengingat jasa orang-orang berharta dan berkedudukan. Jasa mereka begitu mudah dikenang dan dinobatkan sebagai pahlawan. Jasa-jasanya begitu mudah terlihat. Bahkan kelompok orang seperti itu juga bisa dengan mudah menggugat apabila prestasi dan jasanya tidak dihargai. Sebaliknya “orang kecil” mudah terlupakan jasanya. Walaupun tidak kecil sumbangannya utuk masyarakat dan negara, tapi biasanya kelompok ini mudah terlupakan, meninggal tanpa dikenang. Padahal jika berbicara tentang peran dan jasa, seharusnya tak terkait dengan faktor kekayaan dan kedudukan. Sebuah jasa tetaplah jasa yang berguna bagi orang lain dan seharusnya dikenang tanpa melihat bobot orang yang melakukannya.

Mari pandai membaca, meneliti dan menekuri perjalanan hidup hingga langkah terakhir disini. Sesungguhnya perjalanan kita tersambung karena banyak peran dan jasa orang-orang yang mengiringi kita. Lebih jauh lagi, kita harus pandai, meneliti, dan menekuri perjalanan hidup manusia di sekeliling kita, hingga manusia yang hidup dimana saja.

Karena sebenarnya kehidupan itu selalu berjalan dengan silih bergantinya peran-peran manusia yang boleh jadi tidak dianggap,  tapi begitu penting kedudukannya. Ada banyak orang disekitar kita ; suami, istri, sahabat, guru, teman satu almamater, reka sekerja kita yang mungkin dalam pandangan kita tidak selalu berjasa. Namun, sesungguhnya entah besar, entah kecil, mereka pasti pernah berjasa pada kita.

Sebagaimana Rasulullah saw yang begitu memberikan curahan hati dan pikirannya terhadap seorang perempuan tua di Masjid Nabawi. Tak ada kebutuhan secara langsung yang Rasulullah saw peroleh secara pribadi dari peran pembersih masjid itu. Tapi peranannya justru sebebnarnya dirasakan oleh banyak sahabat Rasulullah saw yang kerap mendatangi masjid dalam keadaan bersih. Lalu mereka bisa melaksanakan shalat dengan tenang dan khusyuk di dalamnya.

Demikian mulianya Rasul saw mengajarkan kita tentang menghargai jasa orang lain. Penghargaan jasa yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan pribadi. Terlebih jika ada jasa orang lain yang terkait dengan kebutuhan pribadi kita. Penghargaan atas peran dan jasa yang boleh jadi dianggap sepele, kecil dan sederhana oleh orang lain. Terlebih jika peran dan jasa itu secara perbuatan memang seperti tidak bergengsi. Tidak memerlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Namun jasa tetaplah jasa. Dan manfaatnya tetaplah harus dikenang dan dihargai.

Kisah ini menjadi pengingat kita, betapa banyak khilaf yang sudah kita lakukan. Maka, Ingat dan sapa semua orang yang pernah berjasa kepada kita, kepada kehidupan kita. Semoga orang-orang yang sudah banyak membantu kita, terlebih yang tanpa sepengetahuan kita mendapat balasan kemuliaan dari Allah Ta'ala.

Subscribe to receive free email updates: